Disiplin, mungkin sudah sedari kecil kita mendengar kata ini, dan kita juga sudah dituntun untuk disiplin sejak memasuki usia sekolah. Dimana saat memasuki masa sekolah tersebut, kita sudah diajarkan untuk masuk sekolah sesuai jam masuknya, mengumpulkan tugas tepat waktu dan juga diajarkan untuk membedakan mana waktunya main dan mana waktunya untuk belajar. Dalam agama pun begitu, bagi umat Islam, diwajibkan untuk sholat dalam sehari 5 kali, dan dalam pelakasaan ibadah itu juga memiliki waktu-waktu tertentu. Semua kegiatan tersebut sudah mengajarakan kita untuk berdisiplin. Disiplin dapat diartikan dari sebagai menghargai waktu (normatif sekali… haha). Waktu adalah salah satu hal yang sangat berharga, ada yang bilang “Time is Money”, atau berdasarkan "kalamullah" yaitu Al- Ashr “Demi masa sesugguhnya manusia kerugian”.
Bagaimana tidak keterlambatan satu detik, satu menitan, satu jaman (red: satu zaman) itu sangatlah berarti. Misal bagi seorang maling, kedisiplinan dalam waktu mutlak dibutuhkan, mulai dari kapan mau beroperasi, kapan waktu berkumpul, dan sebagainya(pengalaman nih…). Kalau saja mereka tidak disiplin dalam melakukan kegiatan maling bisa-bisa ketahuan terus digebuk masa deh.
Apabila kita displin kita cenderung akan dihargai. Anda cerdas tapi tidak displin? jangan harap akan ada yang menghargai dan tunggu saja kehancurannya. Adriano seorang pemain sepak bola asal Brazil adalah contohnya, ia adalah salatu talenta terbaik yang dimiliki Brazil. Tapi karena dia tidak disiplin dalam latihan dan sering bolos, lihat sekarang karirnya jauh menurun. Bahkan pelatih terkenal macam Jose Mourinho, Sir Alex atau Arsen Wenger adalah pelatih-pelatih yang sangat menghargai kedisiplinan, bagi mereka untuk apa anda hebat kalau tidak disiplin, karena hanya akan menggangu saja dan tidak jarang pemain-pemain hebat tersebut tidak diturunkan dalam pertandingan, walaupun tenaga mereka sangat dibutuhkan. Displin bukan berarti tidak bisa bermain-main, Ronaldo (bukan C. Ronaldo) adalah contoh yang bisa berdisiplin kapan harus main dan kapan harus bekerja. Ia terkenal akan suka dugem sampai subuh, tapi ketika ada latihan tim di pagi harinya, ia pasti akan datang. Saat ada waktu untuk bermain, disiplinlah, gunakan waktu main tersebut untuk bermain, jangan bekerja, tapi kalau waktunya bekerja disiplinlah juga dalam bekerja, jangan bermain-main, atau istilahnya itu “Play Hard, Work Hard”.
Hmmm karena ini sudah memasuki tulisan yang keempat, tentunya sudah banyak contoh-contoh bahasan tentang disiplin, ada yang menceritkan disiplin ala sebuah bangsa di Eropa, yang terkenal akan kedisiplinannya itu, ada yang membahas kalau kita mau sukses harus disiplin seperti contoh diatas, ada juga yang menceritakan bagaimana disiplin itu menjadi sebuah komitmen dan ada juga yang menceritakan tentang bagaimana sifat displin itu timbul, dengan paksaan, sukarela atau justru bisa dengan rasa malu?
Kaitan antara disiplin dengan malu bisa kita lihat dikehidupan atau dari karakter bangsa kita sendiri. Contoh sehari-harinya yaitu kita sendiri, kehidupan mahasiswa. Masih banyak sekali terlihat kejadian dimana seorang mahasiswa datang ke perkuliahan itu terlambat, mending telambatnya karena ada kejadian yang mendadak seperti kecelakaan dll. Nah yang paling parah dan gak tau malu itu adalah sengaja untuk terlambat, dan bahkan muncul kata seperti ini “Ah paling telat lima sampai sepuluh menit doang, dan dosennya pasti mentolerirnya”. Hallo??? 5 menit? Seorang Spongebob saja yang terlambat datang bekerja satu menit pas, tapi ia merasa sangat bersalah dan merasa sangat malu, padahal bosnya si Mr. Krab, tidak tahu kalau ia terlambat, ya iyalah satu menit doang terlamabatnya. Lah ini 5 menit dianggap biasa, dan gak malu lagi. Dosen mentolerir? itu maksudnya baik, namun sering disalah artikan, sehingga muncul istilah “lebih baik terlambat darpda tidak sama sekali”, seharusnya itu “lebih baik tidak terlambat daripada malu”. Belum lagi saat giliran absen, ada yang nyerobot gak mengikuti jalur yang sesuai, dan ini lagi-lagi terjadi karena tidak ada rasa malu, tidak malu untuk nyerobot dan tidak malu untuk tidak antri, alhasil jadinya tidak disiplin. Bangunlah budaya malu, agar kita bisa disiplin.
Displin itu malu, yang tidak displin berarti tidak punya kemaluan (red: rasa malu).
Dalam tulisan kali ini saya akan membahas kaitan perut dengan emosi. Hmm, mengapa emosi??? Menurut saya, perut adalah salah satu sumber yang bisa membuat emosi kita bekerja, entah itu naik turun, sedih senang, marah atau bahagia, dll.
Namun, sebelumnya saya akan memberikan pandangan seberapa riskan dan pentingnya perut. Perut, menjadi bagian yang paling penting dalam kehidupan ini. Semua yang kita lakukan pada dasarnya berorientasikan pada perut, dan hampir semua kegiatan kita didunia ini adalah bagaimana cara untuk mengisi perut. Mungkin akan ada yg bilang kalimat tadi membuat kita seperti hewan, walaupun kita sebagai manusia diciptakan bukan seperti hewan, yang hidup untuk perut (makan), melainkan perut untuk hidup,tapi ujung-ujungnya urusan perut lagi kan. Karena perut nasioalisme tejual, karena perut iman tergadai dan karena perut juga harga diri runtuh.
Kembali ke permasalahan emosi dengan perut. Apabila kita sudah mengisi perut atau yang biasa dinamakan dengan makan, dan kenyang, apa yang kita rasakan? Tentu ada perasaa puas, senang atau bahagia. Dan kalau lapar ya tidak bahagia, sedih, bahkan ada ada yang jadi sentimentil. Suatu ketika kita mungkin pernah mengalami kejadi ini, saat kita memesan makan disebuah tempat makan, namun makanan yang kita pesan tersebut terlambat datangnya. Dalam keadaan seperti itu biasanya emosi kita pun juga ‘naik’, entah itu marahlah atau ‘ngambek’ bukan ngembik ya!, entar dikira kambing. Pokoknya emosi yang negatif. Dan kalau makan tersebut sudah muncul dan berpindah ke perut, pikiran pun jadi tenang hati pun jadi lapang. Bahkan karena perut ini dapat membuat hati lapang, pikiran tenang dan perasaaan pun jadi senang tadi, dalam melakukan kegiatan entah itu diplomasi, pembicaraan kerjasama perdangan, atau pun dalam berbagai proses ‘bergaining’ cenderung juga diadakan di meja makan, hal ini mungkin dimaksudkan agar proses ‘bargaining’ tersebut berjalan lancar. Kita pun juga sering misal dalam mengerjakan tugas, kita ditemani ‘cemilan’ (cemilan cebelum cepeluh, hehe), dan tujuannya pun adalah untuk membuat mood kita jadi ‘baik’.
Mungkin perut bukan hanya sebagai pusat dari emosi mungkin juga hasrat, nafsu dan birahi. Seperti saat kita berpuasa, yang kita lakukan ya mungkin mengendalikan perut, tapi lebih lanjut kita dihadapakan untuk mengandalikan emosi, nafsu serta birahi. Entah mengapa, kalau kita lapar, emosi (emosi yang negatif) kita pasti mudah tersulut?. Seolah-olah perut ini dapat mengontrol emosi. Kan, kalau lapar emosi kita jadi mudah naik turun, nah dengan melakukan pengndalian perut (puasa) tadi, kita juga harus dapat mengontrol emosi. Jangan hanya karena lapar, kita jadi mudah mengumbar amarah, sudah banyak contoh bagaimana konflik terjadi karena permasalah perut.
Dalam kaitan perut dalam pengandali birahi contohnya seperti ini, dalam Islam jika kita punya hasrat untuk menikah namun pasangan belum ada, tapi keinginan tersebut
* r }vosP E atau nafsu itu sudah sangat membuncah, kita anjurkan untuk mengandalikan perut kita, yaitu dengan puasa tadi. Loh? Hal ini berdasarkan yang saya papat erat kaitanya dengan pendalian emosi, nafsu dan birahi, saat lapar tentu emosi dkk itu, sangat mudah untuk berubah-ubah, dan kita pun harus mengontrol birahi tersebut agar tidak menjadi hal-hal yang negatif.
Jadi kendalikan emosi mu, kendalikan perut mu.
Hidung, ya mengapa manusia mesti punya hidung? Tanpa hidung banyak kok hewan-hewan dapat hidup. Hidung disini maksudnya ya hidung, bukan lubang untuk keluar masuknya udara. Contohnya saja ikan, ikan kan gak punya hidung. Belum lagi dari segi bentuknya, mengapa seperti buah jambu gitu, trus lubangnya ada dua, dibawah lagi. Mengapa lubangnya dua, mungkin karena kalau hidung mampet kita gak mati, lah kok mati? Sepengalaman saya dalam permasalahan hidung mampet, gak pernah deh mampet dua-duanya, seperti di iklan salah satu obat flu, “Ma, yang ini mampet, yang ini enggak” kalau dua-duanya mapet, ya bisa mati, karena sangat sulit bernafas dengan dua lubang didung yang terseumbat, satu aja udah bikin gak bisa tidu apalagi dua. Mengapa kayak Jambu, mungkin ketika ada air, atau air mata tidak masuk ke lubangnya. Trus mengapa lubangnya menghadap ke bawah? Kalau menghadap ke atas ‘riweuh’ juga kali ya?, kalau ada hujan bisa tergenang tuh lubang, dan kalau mau ‘ngupil ‘pun posisinya kurang nyaman haha.
Trus mengapa juga penciuman kita gak setajam penciuman anjing?
Soal penciuman tajam, saat saya kecil, pas nonton film X-Men dengan Wolverinenya yang punya penciuman tajam, saya pun sering berkahayal dan juga berkeinginan punya penciuman tajam seperti itu, kan kalau ada orang atau barang hilang bisa langsung dicari tanpa melatih anjing dulu. Sampai suatu saat saya tidak ingin lagi punya penciuman tajam, gara Patrick. Patrick si Bintang laut dalam kartun Spognebob. Di salah satu episode kartun tersebut, diceritakan Patrick cemburu kepada Spongebob yang punya hidung, dan dia juga ingin memilikinya. Entah dari mana asalnya saya lupa Patrick pun punya hidung, dan penciumannya itu lebih tajam daripada makhluk se bikini bottom bahkan selautan. Awalnya dia senang karena bisa mencium aroma-aroma makanan yang harum serta bau-bauan enak lainya. Tapi, penciuman tajam itu tidak hanya tajam dalam mencium aroma harum saja tapi juga yang busuk, sedikit saja ada aroma busuk, Patrick akan dapat menciumnya, dan ia sangat merasa terganggu dengan bau-bau busuk tersebut padahal hanya bau-bau sepele yang jika penciuman normal bukan lah masalah, dan ia selalu memusnahkan asal bau-bauan tersebut, yang akhirnya menganggu teman-temanya. Dan akhirnya hidung itu musnah karena tidak tahan mencium bau-bauan busuk.
Disinilah letak mengapa Tuhan tidak memberikan manusia penciuman yang tajam, karena gak semua aroma itu enak dibaui, andaikan penciuman kita tajam pasti kita bakal keganggu sendiri dengan bau mulut kita, yang jelas-jelas letak lubang hidung diatas mulut, hahaha.
Ya, satu lagi nilai dari serial Spongebob.
Indonesia, negeri yang unik, begitu banyak warna dan ragam, disamping itu jumlah penduduknya yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa itu mayoritas mengimani Islam sebagai pegangan hidup. Alhasil, Indonesia pun menjadi negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Tapi, Indonesia bukanlah negara Islam (tenang, saya bukan mengajak untuk mengubah sistem negara ini jadi Khilafah, haha), suasana kearab-araban pun tidak tampak, Indoneisa terlalu majemuk untuk menerapkan sistem syariah itu, ada yang bilang sulit diterapkan karena yang tinggal di Indonesia bukan cuma Muslim. Akibatnya, banyak hal-hal yang bertentangan dengan Islam dengan mudah masuk. Dan saya pikir, karena kebebasan tadi itulah, maka Tuhan harus memberikan ‘dispensasi’ pahala khusus untuk orang Indonesia.
Ini dikarenakan, menurut saya menjaga pandangan mata di Indonesia akan jauh lebih sulit ketimbang di Arab Saudi, maupun negera-negara semenanjung arab atau negara timur-tengah lainnya. Di Indonesia, wanita yang berpakaian terbuka (tidak menutup aurat) terlalu banyak, walaupun sebenarnya mereka menggunkan pakaian yang sopan (tidak mengumbar paha, haha) dan tidak menggundang syahwat, namun hal tersebut telah menjadi sesuatu yang lumrah bagi masyarakat kita, Nah, disiliah letak dilema penjagaan padangan mata di Indonesia, tidak mungkinkan jika ada seorng wanita yang tak menutup aurat dan saat bertemu tapi kita malah memalingkan muka atau hanya menunduk ke bawah? Ohh, belum lagi di Jatinangor ini, mahasiswi yang ‘bercelana panas’ (Hot Pants) banyak sekali ‘berkeliaran’ dan tantangan terhadap mata pun juga semakin meningkat. Mungkin selintas melihat sih gak dosa, tapi kalau berkali-kali? seperti pepatah yang mengatakan sekali terlihat tidak mengapa karena itu adalah rahmat, tapi kalau dua kali (sengaja untuk melihat lagi) adalah laknat, mungkin birahi kita tidak bangkit, tapi tetap aj. Mata adalah gerbang maksiat. Siapa saja yang kurang mampu menjaga pandangannya dari sesuatu yang diharamkan, maka sedikit demi sedikit ia akan terjerumus ke dalam jerat syetan (dakwah nih ceritanya, haha). Berawal dari mata, kemudian kaki berpindah ingin mendekat dan seterusnya, hingga akhirnya sangat mungkin akan menjerumuskan manusia pada perzinahan. Nah Lo????
Di arab sih enak, gak bisa ngelirik yang macam-macam maklum wanita-wanita disana hampir semua kan memakai baju gamis dan berkerudung, nah kalau di Indonesia? Gak dilihat rugi, dilihat dosa, hahaha. Malah ada yang bilang melihat yang gituan untuk cuci mata, cuci mata tapi dosa, aduhhh
Saya pun juga sempat berkeinginan suatu saat untuk tinggal di arab saja, alasannya ya karena tadi, mungkin menjaga pandangan disana sedikit lebih mudah ketimbang disini. Atau yang lebih tindakan yang ekstrim mungkin, seperti lebih baik buta dripada mata ini berbuat dosa? Tapi apa benar harus sampai malakukan itu? Ibarat kata, daripada takut dihutangi, lebih baik tak punya uang?
Jadi, karena susahnya menjaga pandangan mata di Indonesia dibandingkan dengan di Arab, haruskah Tuhan ‘mendispensasi’ pahala untuk mata orang Indonesia???
Nama: Fadel Muhammad Iqbal
Npm: 170210090064
Tulisan ini adalah tugas Filsafat saya yang bertemakan mata, yang di publish di Grup Facebook, Bandung School.
Langganan:
Postingan (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact